Minggu, 16 Juni 2013

"Sejarah Kerajaan Batak"



Prasejarah 

Beberapa kerajaan mulai terbentuk dan memerintah tanah Batak sejak tahun 1000 SM di Sianjur Mula-mula tepatnya di kaki bukit Pusuk Buhit. Kumpulan kerajaan-kerajaan huta ini berkumpul dalam persemakmuran kerajaan Batak. Mereka ini merupakan turunan dari kubu Tatea Bulan.

Menurut Uli Kozok, dalam Aschim Sibeth, The Batak, di tanah Batak telah bermukim kelompok manusia pemburu, nomadic hunters, di zaman Palaeolithic. Namun ledakan gunung toba sekitar 75.000 tahun yang lalu telah mengganggu habitat mereka. Ledakan tersebut mengeluarkan lava dan magma sampai ke Sri Langka dan Selat Bengal.

Peralatan-peralatan batu yang ditemukan dibawah lapisan-lapisan lava tersebut, setelah digali, merupakan bukti adanya kehadiran manusia sebelum ledakan tersebut. Namun diyakini hanya sedikit diantara mereka yang dapat menyelamatkan diri.


Karya Seni Masyarakat Suku Karo



Sebagai masyarakat yang telah menetap, tentu saja, masyarakat Karo juga telah menghasilkan karya-karya sebagai apresiasi jiwa seninya. Hal ini tentu tampak dari hasil karya seninya. Beberapa karya seni yang berkembang dalam masyarakat Karo adalah Seni suara, Seni gerak, Seni tenun, Seni bangunan, dan Seni sastra.

Berikut adalah keterangan singkatnya 

01. Seni Suara (Erkata Gendang)

Diketahui bahwa sebelum tahun 1800-an suku Karo belum mengenal seni suara secara mendalam. Namun, setelah melalui perjalanan waktu yang panjang, muncullah tanda-tanda nyata seni suara tersebut. Sebagai awalnya, masih berupa vokal panjang seperti memanggil seseorang , memanggil binatang peliharaan, menghalau burung, dan lain sebaginya. Dapat dikatakan suara-suara tersebut bersahut-sahutan dan ditemukan nada tertentu. Dari suara yang bersahut-sahutan timbullah seni suara walaupun masih belum memiliki tempo dan nada yang biasa. Dan, ketika satu lagu muncul maka lagu-lagu lainnya juga akan turut mengikut. Kemudian seiring berjalannya waktu timbullah orang yang memiliki keahlian menyanyi dan menggelutinya sebagai profesi yang kerap dipanggil sebagai perende-ende. Lagu ini masih berbau sedih dan digunakan untuk mengantar suatu cerita, doa, dan syukur, serta masih sejenis baik yang dinyanyikan oleh wanita maupun pria.

Suku Karo Mengantung Emas di Lehernya





Pernikahan Jhon Sukses dan Ika Efelina

Pakaian Adat Karo dengan Perhiasan Emas

Coba perhatikan pakaian adat pernikahan suku Karo disebelah ini. Dapatkan dibayangkan bahwa pakaian adat seperti ini sangat jarang dan lanka/unik. Karena pakaian adat ini dihiasi oleh emas. Pakaian adat bertabur emas, tentunya bukan sembarangan dan pasti memilki latar belakang yang tinggi dan kaya. Karena emas merupakan benda yang mulia, maka selain perkawinan Suku Karo itu begitu penting dan juga mulia.

Perkawinan suku Karo adalah mengawinkan dua keluarga besar, mengawinkan tiga kelompok besar yang dikenal dalam Suku Karo yaitu SUKUT (keluarga yang mengawinkan anak lelaki), KALIMBUBU (keluarga pihak perempuan) dan ANAK BERU (Keluarga dari penangung jawab kerja adat).

KEKERABATAN DALAM RUMAH ADAT KARO



Besar kemungkinan, Suku Karo dulunya kalau membuka desa baru sebagai hunian baru, berangkat dengan delapan keluarga atau kelipatannya. Ini tampak dengan rumah adat yang dibangun mereka, dihuni dengan delapan keluarga.
Memang ada juga rumah adat yang dihuni empat keluarga. Tapi, umumnya hunian delapan keluargalah yang banyak didirikan.
















Petak hunian per keluarga paling 3m X 4m. Disitu memasak, makan sekeluarga termasuk cuci piring. Begitu pula tidur sekeluarga, ibu ayah dan anak yang belum akilbalig. Anak yang sudah akilbalig, tidur di lumbung padi buat anak laki dan anak perempuanya tidur di jambur semacam ruang pertemuan warga desa.